Setiap Bisnis adalah Bisnis Passion

Artikel dan cerita ini saya adaptasi dari cerita Mr. Bruno Hasson yang mengawali karirnya di brand ‘Sophie Martin’ sekaligus menjadi foundernya.

Banyak filosofi yang bisa kita gali dari salah satu orang hebat ini.
Beliau berpendapat : Semua orang pasti memiliki pemahaman masing2 terhadap bisnisnya. Duniapun menjadi semakin indah dengan perbedaan yang memperkaya ide.

Filosofi bisnis itu tidak terbentuk instan, tapi karena proses pembelajaran dan terjun langsung dalam bisnis (take action).

Beliau mengawali bisnis selepas lulus kuliah, di institut pertanian pemerintah, yaitu memproduksi dan menjual kosmetik2. Saat itu dia belum memahami filosofi bisnis seperti sekarang. Tapi pada saat beliau mendirikan Sophie, nilai itu sudah merasuk ke dalam dirinya.

Beliau juga berguru dari orang2 hebat, yang menjadikan inspirator2nya.
Beliau mengawali bisnis fashion Sophie dari pengamatan akan kondisi dunia fashion Indonesia tahun 1995. Kebetulan beliau senang design & senang menciptakan produk2 baru.
Khususnya ‘tas’ untuk kalangan menengah. Beliau heran, kok harga mahal, kualitas rendah, tapi tetap saja banyak peminatnya? Harusnya para ibu2 dan remaja2 Indonesia bisa membeli tas yang ‘lebih’ berkualitas, trendy, and looks ‘branded’ daripada tas pasaran.

Akhirnya beliau bertekad untuk menciptakan tas dengan design menarik, ‘bergaya’ Perancis dan dibuat oleh designer Perancis asli.

Untuk memperkuat citra ‘Perancis’, beliau menggunakan nama istrinya ‘Sophie Martin’.
Design2nya selalu tampak modern & lebih bagus ketimbang istrinya adalah seorang designer tas. Kenapa? Karena beliau mengerjakannya dengan penuh semangat. Beliau bisa 2 malam tidak tidur kalau ‘passion’ nya keluar untuk mendesign produk baru Sophie Martin.

Ini bukti bahwa asal kita punya semangat, apapun bisa kita pelajari. Dan khusus tentang bisnis, beliau yakin lebih baik bisnis dipelajari sambil berjalan-terjun langsung dalam bisnis, tidak perlu menunggu lulus sekolah MBA, baru berbisnis.

Baginya, belajar dan mencari ilmu itu 2 hal yang berbeda. Belajar merujuk ke sekolah formal, sedangkan mencari ilmu merujuk ke proses alami yang tidak ada ujungnya. Seperti katanya Pak Jamil dalam seminarnya ‘Tuhan inilah proposal hidupku’, berbisnis itu Seperti kita menaiki bukit. Kadang ada diatas, terkadang ada di bawah.

Belum tentu orang yang belajar adalah juga orang yang mencari ilmu, tergantung apakah motivasinya didorong oleh faktor eksternal (dari luar diri) ataukah internal (dari dalam diri).

Mencari ilmu pasti selalu didorong oleh motivasi internal berbentuk passion to learn, sedangkan belajar umumnya didorong oleh motivasi eksternal misalnya mendapatkan nilai dan ijazah.

Orang yang mencari ilmu tidak mengejar ijazah, atau gelar tertentu, melainkan mencari penguasaan pengetahuan.
Berbagi cerita & artikel ini juga sekaligus menegur saya, bahwa tidak boleh patah semangat untuk mencapai apa yang menjadi passionbisnis kita.

Jadi jika masih ada yang bertanya darimana harusnya memulai bisnis?

Jawabnya, jelas harus bermula dari passion.
Start from your own passion. Mulai dari bidang usaha yang kita cintai. Lihat peluang apa yang bisa untuk diperbaiki, mampu diperbaiki dengan bekal kompetensi kita.

Beliau selalu percaya bahwa kesuksesan itu ada rumusnya, yaitu :
Sukses = peluang + persiapan + kompetensi

Setelah kita tahu ada peluang, persiapan mental cukup, kompetensi mendukung, jadi tidak perlu butuh waktu lama untuk terjun berbisnis, tidak harus belajar konsep dulu, atau menuntut ilmu di sekolah bisnis.

Selamat Berbisnis🙂

One thought on “Setiap Bisnis adalah Bisnis Passion

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s